Ada Apa Nih, Pertamina Makin Beresiko ?

  • Whatsapp

JP Morgan Indeks : Pertamina Dikeluarkan Dari Perusahaan Sebagai Perusahaan Yang Aaman Untuk Investasi

Ketua AEPI, Salamuddin Daeng . / Foto : Dok/www.ntbpos.co

Oleh : Salamuddin Daeng

Ada apa ya? Dikatakan bahwa Pertamina belum mengeluarkan pernyataan resmi atau tanggapan atas status ini. Padahal Pertamija telah berhasil menyusun laporan keuanganya dan mencatatkan laba. Tapi penilaian lembaga keuangan berbeda, melihat ada resiko atas pinjaman yang diberikan.

Sebagaimana dilansir NEW YORK, 15 Juni – Perusahaan Pertamina Indonesia berada dalam daftar pantauan untuk dihapus dari indeks ESG EMBI JPMorgan, kata bank itu dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa lalu.

JPMorgan mengatakan perusahaan minyak milik negara itu diharapkan untuk keluar dari suite JESG pada akhir Juni untuk menyeimbangkan kembali” karena skor mereka turun di bawah ambang batas yang disyaratkan dan mereka tidak lagi memenuhi syarat untuk dimasukkan.

Ada tiga kemungkinan mengapa pertamina dikeluarkan;

Baca Juga

Pertama, kemungkinan pertama adalah masalah keuangan berkaitan dengan utang jatuh Tempo pertamina dalam 6 bulan ke depan yang masuk kategori tidak aman.

Kedua ; kemungkinan karena masalah lingkungan yang selama ini menimpa pertamina seperti masalah tumpahan minyak, komitmen terhadap energi bersih dan lain sebagainya yang dipandang tidak ada kemajuan.

Ketiga ; kemungkinan masalah keamanan terkait dengan tiga kali kebakaran kilang secara beruntun, yang mencerminkan keadaan tidak aman baik dari sudut pandang tehnis, politik dan ekonomi.

Sebagai catatan ; J.P. Morgan ESG EMBI Global Diversified Index melacak instrumen utang tetap dan mengambang di pasar negara berkembang dalam Dolar AS yang likuid yang diterbitkan oleh entitas berdaulat dan kuasi-berdaulat.

Indeks tersebut menerapkan metodologi penilaian dan penyaringan ESG terhadap emiten yang berperingkat lebih tinggi pada kriteria ESG dan masalah obligasi hijau, dan untuk mengurangi bobot dan menghapus emiten yang berperingkat lebih rendah.

 

Penulis adalah Pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *