Ambisi Vaksin Covid Bio Farma Dalam Timbunan Utang

Ketua AEPI, Salamuddin Daeng . / Foto : Dok/www.ntbpos.co

Oleh : Salamuddin Daeng

Vaksinasi telah dijadikan jurus kunci dalam memulihkan ekonomi Indonesia sekarang. Ujung tobak program vaksinasi adalah perusahaan BUMN induk holding Bio Farma persero. Perusahaan yang dipimpin oleh mantan Dirut Keuangan PT. Telekomonikasi Indonesia (2017) tampaknya ingin menunjukkan kompetensinya kepada Sinuhun, cari uang untuk membiayai produksi vaksin nusantara.

Mengapa cari uang? Karena BUMN Bio Farma sendiri tengah menghadapi masalah keuangan yang tidak ringan. Tahun 2018 lalu perusahaan ini telah mengambil utang sangat besar. Salah satunya adalah dana sukuk. Bukan hanya jumlahnya yang besar, namun bunganya juga tertinggi didalam jajaran domestik bond BUMN.

Bio Farma memiliki utang besar, tahun 2018 liabilitas perusahaan 1,5 triliiun rupiah. Sebagian adalah hutang dana sukuk 325 miliar rupiah dan 125 miliar rupiah dengan bunga 8,75%. Masalah yang muncul kemudian adalah bond sukuk ini jatuh tempo tahun 2021. Sementara dalam upaya mendapat uang bagi pengadaan vaksin Bio Farma akan mengambil utang bank yakni PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) sebesar Rp 1,5 triliun dan pendanaan dari PT Maybank Indonesia sebesar Rp 2,68 trillun. Utang yang diambil Bio Farma untuk pengadaan vaksin sangat besar. Sementara utang dana Sukuk sebelumnya sudah sangat besar.

Pertanyaannya, ambisi Bio Farma memgambil utang dana Sukuk dan dana bank untuk berbisnis dalam isue corona, apakah hal itu tidak membahayakan perusahaan? Bayangkan saja Bio Farma harus mengadakan 180 juta vaksin yang 90 % bahan bakunya di impor dibeli dengan dolar. Nilai pengadaan vaksin yang dijanjikan Bio Farma tidak kurang dari 35 triliun. Dari mana Bio Farma akan memperoleh uang?

Konon ada dana yang di sediakan APBN untik pemberian vaksin gratis, kira kira senilai 70 triliun rupiah. Tapi kita tahu bahwa pemerintah sekarang lagi susah uang. Apakah mungkin pemerintah mau membayar vaksin Bio Farma nantinya? Kebiasaan selama ini pemerintah malah berhutang ke BUMN. Kalau pemerintah nanti tidak bayar, maka amblaslah Bio Farma ditelan ambisi vaksin dan ambisi utang sang Dirut.

Baca Juga

 

Penulis adalah Ketua Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *