CPMI Asal Lotim Diduga Menjadi Korban Sindikat Perdagangan Orang

Keberangkatan 3 CPMI Dari Bandara Halim Perdana Kusuma Menuju Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. / Foto : Unrara Angan/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR – Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan kerja (PPKK) dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lombok Timur (Lotim) menyesali tiga Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang tidak ditemukan saat penjemputan di Bandara pada tanggal 27 Februari lalu.

Kepala Dinaskertrans melalui Kepala Bidang PPKK, Muh. Hirsan, saat temui NTBPOS mengatakan, informasi dari Dinas Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Sukabumi, menyebut bahwa ada 3 CPMI Ilegal asal NTB akan diberangkatkan ke Timur Tengah namun berhasil digagalkan.

Ketiga CPMI Ilegal ini berasal dari Lombok Tengah 1 orang dan 2 orang dari Lombok Timur, warga Desa Paok Motong dan Pringgabaya.

“Informasi kepulangannya hari Sabtu dan turun dari pesawat pukul 12.00 Wita, kami bersama kepala bidang UPTD PPA menuju bandara melakukan penjemputan,“ katanya.

Selanjutnya dirinya berkomunikasi dengan salah satu CPMI dan menginformasikan bahwa dirinya menunggu di ruang kedatangan.

“Kami menunggu sampai 1 jam, namun tiga CPMI ini belum ada keluar. Beberapa kali di hubungi namun tidak menjawab, kemudian kami melakukan pengecekan ke dalam bandara, namun sudah tidak ada,“ tuturnya.

Baca Juga

Hirsan menjelaskan, salah satu CPMI di Dusun Dasan Malang Desa Paok Motong atas nama Sahmin mengaku di jemput tiga orang pria yang mengaku mendapat perintah Ibu Dyah Pujiyuwana.

“Padahal saat itu, ibu Dyah bersama satu orang stafnya ikut rombongan kami untuk penjemputan ke bandara,“ jelasnya.

Sementara, pengakuan korban, ketiga oknum yang tidak dikenal tersebut menyita handphone milik ketiga CPMI ini sejak di bandara, sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi saat ditunggu di bandara.

Selain itu, koraban mengaku di intimidasi oleh sponsor, diminta untuk mengembalikan uang sekitar Rp. 20 jt per orang yang sudah diberikan kepada mereka, jika melanggar perjanjian.

“Kami menduga, ini salah satu sindikat perdagangan orang, permainannya luar biasa,“ ucapnya.

Karena itu, kata dia, pihaknya terus menggali informasi dari korban bersama tim satgas perlindungan PMI, Dinas Sosial dan pihak kepolisian, supaya segera melakukan tindakan untuk menemukan sponsor tersebut untuk di tindaklanjuti.

Selain itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim di wakili Kepala UPTD PPA, Dyah Pujiyuwana, mengklarifikasi bahwa yang memerintahkan tiga oknum tersebut untuk penjemputan bukan dirinya.

“Saya bersama satu staf dan Kabid PPTK dengan dua stafnya melakukan pejemputan bersamaan pada Sabtu lalu,“ katanya.

Karena saat itu, lanjutnya, pesan dari kepala DP3AKB Sukabumi kepada tiga korban tersebut bahwa, yang menjemput hanya ibu Dyah Pujiyuwan, tidak boleh diserahkan dokumennya ke orang lain.

“Ini sebagai pertanyaan besar kami, karena yang tahu tentang penjemputan itu, hanya saya dan pihak PPTK, tidak ada orang lain,“ ucapnya.

Lanjutnya, korban mengaku sempat cekcok dengan tiga orang yang mengaku diperintahkan oleh dirinya di area parkir pesawat.

“Tiga korban ini dijemput dibawah tangga pesawat, kemudian dokumennya beserta hp miliknya di sita secara paksa. Jadi pertanyaan kami siapa yang membocorkan nama saya,“ ucapnya.

Saat disinggung awak media tentang apakah informasi penjemputan ini ada yang membocorkan, dan kenapa bisa sampai di jemput di bawah tangga pesawat, namun kedua belah pihak tidak berani menuduh pihak mana yang membocorkan informasi tersebut, dan nama perusahaan dirahasiakan. np

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *