Kasus Pernikahan Dini di Lombok Tengah Kembali Mencuat

Proses Akad Nikah Anak Dibawah Umur di Lombok Tengah. [] np/Shalafuddin Rahman

LOMBOK TENGAH – Kasus pernikahan dini kembali terjadi di wilayah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), tepatnya di Dusun Kener Desa Sukadana, Kecamatan Pujut.

Seorang siswa salah satu Madrasah Aliyah (MA) di Lombok Tengah nekat menikah di usia 17 tahun. Aksi pernikahan dini tersebut lantas viral dan menjadi perbincangan hangat di Media Sosial Facebook, setelah salah seorang warga melakukan siaran langsung di akun Facebooknya saat proses akad nikah.

Pasangan bawah umur yang sudah menikah tersebut diketahui bernama Medi Irawan Putra (17), warga Desa Sukadana dengan Baiq Anisa (17), warga Dusun Penyalu Desa Rembitan, Kecamatan Pujut. Akad nikah berlangsung di Dusun Kener, Desa Sukadana, Selasa, 5 Januari 2021, kemarin.

“Proses pernikahan ini dilakukan langsung tokoh agama dan disaksikan kepala dusun dan masyarakat setempat,“ kata Kepala Dinas BKKBN Loteng, H. Muliadi Yunus, Rabu, 6 Januari 2021.

Dijelaskannya, anak di bawah umur ini sudah cukup lama menjalin hubungan, setelah mereka bertemu di Pantai Kuta. Dari sana kemudian tumbuh benih-benih cinta diantara mereka, kemudian mereka memilih menikah meski masih duduk di bangku sekolah.

“Status mereka masih pelajar, yang laki-laki merupakan pelajar Madrasah Aliyah, sedangkan perempuan masih duduk di bangku salah satu MTs di Kecamatan Praya Timur,“ jelasnya.

Baca Juga

Menurutnya, pihak keluarga laki-laki sempat melakukan komunikasi dengan keluarga pihak perempuan untuk melakukan penundaan pernikahan. Alasannya karena usia yang masih belum layak untuk menikah.

“Sempat ada rencana penundaan dan pemisahan, tapi karena alasan cinta, mereka tetap melangsungkan pernikahan. Pernikahan ini juga dipicu akibat perceraian orang tua dan faktor ekonomi, yang perempuan ini tinggal sama neneknya,“ terangnya.

“Pernikahan ini sah sesuai agama, tapi tidak sah jika mengacu pada aturan negara. Karena tidak memiliki NA dan belum bisa terdaftar di KUA,“ tambahnya.

Oleh sebab itu, pihaknya menyarankan kepada kedua mempelai untuk tetap melanjutkan pendidikan. Sebab, pendidikan sangat penting bagi keberlangsungan hidup mereka kedepan.

“Kami berharap agar sebisa mungkin pasangan ini bisa menunda kehamilan hingga usia 20 tahun ke atas, nanti kami di BKKBN siap membantu dan memfasilitasinya,“ ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal serupa, pihaknya bersama perangkat desa terus mensosialisasikan kasus pernikahan dini. Pihaknya juga berharap semua desa membuat Peraturan Desa (Perdes) tentang perlindungan anak.

“Ini bagian dari upaya dalam membantu pemerintah untuk menekan kasus pernikahan dini. Beberapa desa juga sudah ada yang membuat Perdes ini,“ tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris BPD Sukadana, Muhali menyampaikan, terkait persoalan ini pihaknya akan melakukan pertemuan di tingkat desa untuk melakukan pembahasan lebih lanjut, tentunya dengan melibatkan tokoh adat dan semua perangkat desa.

“Kasus ini baru pertama kali terjadi di desa kami, jadi kita akan membahasnya nanti. Apakah akan membuat aturan dan kebijakan atau tidak. Tidak menutup kemungkinan tokoh agama dan kadus yang terlibat pada prosesi pernikahan akan kena sanksi juga,“ ungkapnya.

Terpisah, Kepala Desa Sukadana, M. Syukur mengatakan, kasus pernikahan dini tersebut tidak ada koordinasi dan komunikasi di tingkat desa, baik dari Kadus ataupun pihak keluarga. Sementara untuk kasus ini, pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke Pemerintah Daerah (Pemda) Loteng.

“Mungkin karena pernikahan dini mereka tidak menginformasikannya ke desa. Malah setelah video ini viral, baru saya tahu. Tadi saya juga sudah datang ke lokasi kejadian bersama Kepala Dinas BKKBN Loteng,“ katanya. np

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *