Menolak TGB Jadi Menteri

Presiden Joko Widodo melantik Bahlil Lahadalia menjadi Menteri Investasi dan Nadiem Makarim Menteri Kemendikbud Ristek, Rabu, 28 April 2021 di Istana Negara . / Istimewa

Oleh : Salman Faris

Agar tidak menimbulkan kesalahfahaman di kalangan masyarakat pembaca, sengaja tulisan ini dikeluarkan setelah Presiden Jokowi resmi melantik dua menteri baru dalam kabinet jilid dua. Selain itu, tentu saja tulisan ini seolah menjadi antitesis terhadap mimpi besar orang Sasak agar mereka terwakilkan di rumah besar bernama Indonesia.

Begitu besar mimpi tersebut, boleh jadi tak ada seorang pun orang Sasak yang tak ingin ada seorang dari mereka yang, sekurang-kurangnya menjadi menteri. Satu mimpi yang belum terwujud sampai sekarang. Bahkan jika merujuk versi senior Sasak, Ali BD, sejak Indonesia merdeka, orang Sasak belum pernah terwakili dalam kabinet pemerintahan. Maka, jelas, sepintas nampak tulisan ini menjadi antitesis terhadap mimpi besar yang anehnya, lemah perjuangan atau bahkan tak pernah diperjuangkan tersebut.

Dalam situasi kebatinan Sasak tersebut, saya menolak TGB menjadi menteri. Satu sikap yang seharusnya tidak saya ambil sendiri melainkan oleh seluruh jamaah nahdlatain dan orang Sasak. Lantas kenapa menolak?

Berikan pilihan kepada TGB seribu kekuasaan dan satu masjid madrasah, maka TGB akan memilih masjid madrasah. Begitulah gambaran holistik tentang TGB. Sejauh yang saya tahu, tumpuan minat TGB hanya dua yakni Ilmu dan agama. Jika pun akhirnya mendapatkan kekuasaan politik, itu tak lebih dari sekadar bonus yang sebenarnya, tak pernah TGB inginkan. Tak pernah ada dalam guratan imajinasi untuk TGB menjadi gubernur, ketua partai, atau pun menjadi menteri. Semua peluang kuasa politik tersebut disebabkan oleh keadaan. Sebab dalam masa yang sama, dalam magma batin TGB yang mengalir hanya dua perkara tadi: ilmu dan agama. Begitu juga, seandainya ada jalan menjadi calon presiden atau calon wakil presiden dan kemudian menang, sekali lagi hal tersebut karena keadaan. Bukan ada karena visi utama TGB. Watak dasar dan utama TGB ialah Tuan Guru, bukan penguasa.

Kalau merujuk penjelasan Ummi Hajjah Siti Rauhun ZAM (bunda tercinta TGB), perlu perjuangan bahkan jebakan yang keras agar TGB bersedia dicalonkan menjadi gubernur NTB. Upaya tokoh politik NTB pada masa itu mendekati TGB agar masuk ke kancah kontestasi politik NTB tidak berhasil. Terpelanting percuma. Maka, jebakan keras beberapa wakil jamaah membuat TGB menyerah setengah hati. Itu pun selepas Ummi Rauhun memberikan izin. Tanpa izin ummi, saya dapat pastikan, TGB tak akan pernah mau.

Baca Juga

Perkara yang sama berlaku ketika TGB terpilih menjadi anggota DPR RI. Benar-benar bukan karena dorongan terdalam visi hidup. Tapi sepenuh dan semata-mata karena keadaan. Secara jelas Ummi Rauhun menyatakan, “Untuk kepentingan pribadi, TGB tak pernah dapat bicara. Hanya diam dan diam.”

Berkaitan dengan jalan kuasa politik tersebut, dapat digambarkan TGB berada dalam dua dimensi. Pertama, memenuhi dan menjalani kehendak jamaah yang, karena TGB memiliki ilmu dan agama yang kuat, kemudian dimensi ini bertransformasi secara perlahan, akhirnya, menjadi jalan ibadah. Bukan jalan yang kemudian bermetamorfosis menjadi central point menyuling kekuasaan politik. Kedua, berkecamuk dalam batin visi utama, yakni ilmu dan agama. Untuk yang kedua ini, sebab inilah hakikat TGB, maka dalam situasi yang cukup sulit, TGB dapat memenuhi mimpinya sekaligus mimpi keluarga besar: menamatkan pendidikan di al-Azhar.

Sekali lagi, kalau merujuk pernyataan Ummi Rauhun, proyeksi TGB memang selalu berkaitan dengan ilmu dan agama. Dasar inilah yang kemudian menjadi aras pacu kenapa TGB menjadi satu-satunya dari keseluruhan saudaranya memilih ikut tinggal bersama Maulana. Sebab mimpi ummi, harus ada salah seorang dari anak beliau yang menamatkan pendidikan di al-Azhar. Dengan kata lain hafal al-Qur’an dan menjadi tuan guru seperti Maulana. Dan pilihan itu jatuh kepada TGB yang secara bahan dasarnya sejalan dengan mimpi ummi tersebut. TGB dan ummi mempunyai atlas pacu yang sama: ilmu dan agama.

Dus, besar dalam situasi keilmuan dan keagamaan tersebut, TGB tumbuh menjadi pribadi yang tak nyaman dalam lingkungan konflik, apalagi konflik tersebut berwatak jahat macam politik kuasa. Permadani TGB ialah fastabiqul khoirot. Derap laju amar ma’ruf nahi munkar. TGB sangat senang berada di lautan kitab ilmu dan mendakwahkan ilmu tersebut. Inilah dunia sebenar TGB. Bukan di tengah-tengah lalu lalang dan arus kepentingan yang suram, kepentingan yang kejam berseliweran tiada putus-putus, dan perilaku intrik yang menikam tikam semacam politik kuasa. TGB sangat tidak nyaman berada di arus drama tanpa seri bernama partai politik.

Untuk permadani tersebut, TGB sudah mendapatkan lebih dari cukup. Dari sisi keduniaan, dalam dunia ilmu dan agama yang dijalani saat ini, TGB dapat dikatakan sudah berada di puncak dan terus menuju ke puncak berikutnya. Dalam dunia ilmu dan agama, nama TGB dapat dikatakan sejajar dengan nama besar yang lain, baik level nasional maupun internasional. Apa hakikat penting dalam perkara ini ialah capaian TGB tersebut bukan diberikan oleh kekuasaan politik, bukan juga capaian politik yang dapat tumbang setiap saat disebabkan pergesekan yang jahat. Melainkan pemberian masyarakat luas sebagai penerimaan mereka terhadap pribadi TGB dan pengakuan mereka terhadap kapasitas keilmuan dan keagamaan TGB.

Dengan kata lain, kuasa menteri yang terbatas waktu dan umurnya berada di tangan seorang presiden itu, benar-benar sungguh tak sebanding dengan capaian TGB saat ini. Jabatan menteri itu sungguh hanya setitik jika dibandingkan penerimaan dan penghargaan masyarakat nasional dan internasional terhadap TGB. Dari sisi ini, jabatan menteri itu, boleh jadi akan mengecilkan TGB. Disebabkan ia jabatan politik, maka polarisasi musuh dan kawan semakin jelas. Akibatnya, yang semula kawan, boleh jadi lawan. Satu situasi, di mana, TGB benar-benar tak dapat hidup di dalamnya. Berbeda dengan di tengah-tengah jamaah, di mana, di sanalah TGB menemukan kuning telur kehidupan itu.

Sisi lain ialah berkaitan dengan Sasak. Mungkin hanya sedikit yang membantah yang, TGBlah orang Sasak saat ini yang paling menjulang. Orang Sasak yang dikenal di seluruh penjuru Indonesia, termasuk Asia Tenggara. TGB ialah representasi orang Sasak yang melebihi batas geografis Indonesia. Jadi, menarik TGB ke level menteri, sama halnya dengan menurunkan kadar keterwakilan Sasak. Seharusnya orang Sasak berpacu mendorong TGB terus membiak membesar dan menanak di seluruh permukaan dunia sebagaimana yang dilakukan oleh orang Sumbawa kepada Prof. Din Syamsuddin.

Politik kebudayaan orang Sumbawa seharusnya menjadi rujukan orang Sasak dalam konteks keterwakilan. Orang Sumbawa tidak hanya bertumpu kepada Prof. Din Syamsuddin yang sudah eksis kukuh dalam genggaman dunianya, melainkan bersatu padu mendorong figur lain yang memiliki peluang dan kelayakan. Dengan kata lain, orang Sumbawa memberikan kesatuan energi yang sama kepada Prof. Din Syamsuddin dan kepada Fahri Hamzah, misalnya. Tujuannya jelas, untuk menerbitkan sinar Sumbawa secara merata diperlukan sebanyak-banyaknya orang Sumbawa yang mampu melangkaui dunia.

Orang Sasak yang secara politik kebudayaan masih tertinggal oleh Samawa dan Mbojo, tentu saja memerlukan kesatuan dan kerja yang lebih dahsyat lagi. Misalnya, kalaulah benar mimpi orang Sasak dapat terwakili melalui cermin jabatan menteri, dan pilihannya ialah TGB, itu bermakna ganda. Pertama, mengecilkan TGB yang sudah mengindonesia dan mengasiatenggara. Kedua, membunuh kesempatan orang Sasak lain yang memiliki kelayakan. Dr. Kurtubi dan Prof. Mansur, misalnya (sebagaimana yang diusulkan oleh senior, Ali BD), ialah orang Sasak yang kapasitas keilmuan mereka diakui secara nasional dan internasional. Dalam konteks ini, orang Sasak tidak boleh lagi menjebak orang terbaik mereka ke dalam “Salah Sasak Mengandung”.

Orang Sasak tak boleh terfokus hanya kepada TGB, seperti yang ditunjukkan oleh senior, Ali BD. Beliau mengusulkan orang Sasak yang, memang berkelayakan. Hanya saja, jika nama TGB tidak ditulis, maka itu bermakna memberikan peluang besar kepada orang Sasak yang lain.

Strategi tersebut di atas bertujuan untuk memproduksi sebanyak-banyak representasi. Di tengah-tengah keterbelakangan dan kelemahan politik kebudayaan orang Sasak, diperlukan ratusan bahkan ribuan representasi. Bukan hanya satu orang TGB. Dan untuk tujuan ini, orang Sasak dituntut secara wajib untuk mengubah pola strategi kebudayaan mereka yang sebelumnya dibasuh dalam semangat inlander menuju bara api derap laju watak superior. Beruntung TGB tidak jatuh karena budaya dan watak “jurakan” orang Sasak. Kalau ya, maka habislah orang Sasak itu. Beruntung TGB tidak terlindas oleh pepatah “lacur malu Sasak sebab cermin dipecah sendiri”.

Satu sisi yang lain ialah NWDI yang baru seumur nafas bayi diresmikan menjadi organisasi kemasyarakatan. Disebabkan karakter jamaah nahdlatain yang amat bergantung kepada figur, maka jika TGB menerima jabatan politik dalam masa-masa benih tumbuh ini, sebarang risiko dapat berlaku.

NWDI akan melesat cepat karena TGB ada jabatan politik, namun setelah itu jatuh kembali ke anak tangga pertama. Kenapa? Saya membayangkan begini, karena TGB mempunyai jabatan politik nasional, jadi banyak pulalah tokoh-tokoh berkehendak memberikan kontribusi kepada NWDI. Kehendak yang sudah pasti ada udang di balik batu. Kehendak yang hanya mengalir sepanjang TGB masih menjadi pejabat politik nasional. Sesudah itu suram kabur dan lenyap seiring TGB tak lagi memegang jabatan.

Selain itu, NWDI tak boleh dididik tumbuh dalam ketergantungan kekuasaan. Ini ialah pendidikan dasar Maulana. Siapa yang lupa dan tak menjalankan pendidikan dasar ini, maka saya menilai mereka ialah munkarun nahdlatain. Siapa pun dia. Ada dan tidak ada kekuasaan, bahkan andai NWDI menjadi garis luar kekuasaan karena perbedaan pendangan politik dan keyakinan, NWDI harus tumbuh mesti hidup dengan nafas yang leluasan penuh percaya diri. NWDI mesti dididik dalam karakter kuat tentang kemandirian agar tidak melahirkan generasi penjilat kuasa. Sekali lagi, ini ialah pendidikan dasar Maulana. Siapa yang tak tahu ini, maka mereka buta tuli dalam cahaya.

NWDI harus tumbuh kaya raya karena watak dagang jamaah, bukan karena sumbangan pemerintah. Dengan begitu, NWDI mempunyai harga diri di depan penguasa, seperti Muhammadiyah. Bukan jadi bulan-bulanan roling politik kuasa.

Nah, sperti yang saya katakan sebelumnya, figur mempunyai kedudukan penting. Inilah masa yang tepat, bahkan hingga satu dekade ke depan untuk membina watak-watak kuat dalam perjuangan, intelek dalam pergaulan, kritis dalam keorganisasian, kreatif dalam berkarya, luas dalam berpandangan, semesta dalam jaringan, kuat dalam kepemimpinan, taat dalam keyakinan, teguh dalam ahlussunah wal jama’ah. Bukan generasi cemen yang mengukur sukses hanya menjadi anggota dewan atau kepala dinas. Ukuran ini tidak keliru, namun seharusnya ia menjadi serendah-rendah ukuran kesuksesan generai NWDI.

Tugas utama NWDI ialah menyempurnakan kelemahan yang ada dalam NW. Kelemahan yang tak mau kita akui, namun itu nyata terjadi. NWDI ialah antitesis watak katak dalam dulang. Juga antitesis kuat dalam ketertutupan. NWDI menuju wawasan baru dalam berorganisasi, mencerdaskan jamaah, dan pencerahan atas kelamnya bangsa Sasak yang tak ada habis-habisnya.

Untuk mencapai semua itu, dan hal-hal lain yang saya tidak tulis, diperlukan reinkarnasi watak Maulana. Misalnya, salah satu pertaruhan paling besar Maulana dalam membangun NW ialah hampir seluruh hidup beliau ada di Lombok. Tujuannya jelas, untuk mencerahkan masyarakat Sasak dan mengangkat harkat martabat masyarakat Sasak yang sudah ternista ratusan tahun melalui NW. Apa makna sikap ini? Totalitas. Dengan kata lain, tentu saja tak bermakna TGB harus tetap berada di Lombok sebagaimana Maulana, melainkan TGB istiqomah melayarkan sayap ke seluruh dunia sebagai representasi NWDI (selain representasi Sasak dan ulamak moderat tentu saja) secara total sebagai figur yang dikenal luas berilmu dan beragama. Bukan berkeliling ditempeli oleh jabatan politik tertentu.

Dan yang tak kalah pentingnya ialah NWDI berkewajian melahirkan representasi. Sebanyak-banyak orang hebat yang kemampuan mereka diakui dan diterima secara nasional maupun internasional. Bukan hanya terpusat dan bertumpu kepada TGB. Ketergantungan mestilah diretas sepanjang membangun NWDI.

Ringkasnya, NWDI memerlukan pemimpin yang sepenuh masa, bukan separuh waktu. NWDI memerlukan kepemimpinan yang jelas warnanya. Bukan kadang warna kuasa, kadang warna iman dan taqwa. Ini pendidikan dasar Maulana. Saya hanya penyambung diksi.

Lantas, bagaimana jika arus nasib dan keadaan menjerumuskan TGB ke kancah pencalonan presiden atau wakil presiden dalam kontestasi Pilpres Indonesia yang akan datang?

Perkara itu, kita rumuskan kemudian.

 

Penulis adalah Akademisi, pekerja seni budaya, pemerhati sosial politik dan media

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *