Pembelajaran Waktu dari Masnun Tahir (Begitu ada, Waktu tak pernah tiada)

  • Whatsapp
Dr. Salman Faris . // Foto: Istimewa

Oleh: Salman Faris

Baru saja Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M. Ag (seterusnya ditulis Masnun Tahir) dilantik sebagai pucuk pimpinan di UIN Mataram. Saya tidak terkejut. Malahan pelantikan tersebut merentas saya untuk sejenak merenung tentang beberapa penggal waktu kebersamaan dengan Masnun Tahir. Tentu saja hal tersebut juga menghendaki saya untuk kembali mengutak-atik tentang filsafat waktu yang sudah difikirkan oleh filosof hebat di masa dahulu. Materi, ruang, dan waktu ialah bahan diskusi dan perdebatan panjang para filosof.

Kebersamaan saya dengan Masnun Tahir ialah materi. Di mana padanya terdapat fisik, benda, materi yang menandakan sekaligus menegaskan yang, kami ialah manusia. Manusia yang ada sekaligus sudah ada dan akan terus ada. Ketiga dimensi ini bukan altar utama perbincangan melainkan pemaknaan yang menguatkan satu kesadaran tentang manusia. Kalau Husni Chomsky (dalam bukunya yang berjudul Sekolah Perjumpaan) menyebutnya sebagai kesadaran yang menghbungkaitkan sesuatu di luar dirinya. Kesadaran tidak akan terbentuk jika tidak ada obyek yang disadari. Kesadaran manusia tersusun atas dasar jalinan erat manusia yang satu dengan yang lainnya. Kesatuan itulah yang berada dalam satu entitas kekuatan untuk melahirkan kemanusiaan.

Jika kesadaran manusia itu berhubungan dengan obyek sebagai benda, maka ia akan membentuk peradaban. Karena itu, jabatan rektor, misalnya, ialah bukan sekadar amanah melainkan satu peradaban karena ia disusun atas dasar kesadaran manusia dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan jalinannya dengan suatu obyek benda. Melihat rektor sebagai peradaban akan mengikat satu kesadaran kemanusiaan yang berdampak pada gugusan ide untuk menjadikan jabatan tersebut sebagai medan kebaikan. Sebagai episentrum untuk memproduksi segala jenis kebaikan.

Itulah setidaknya yang saya maksudkan dengan konsep manusia yang akan terus ada. Manusia sebagai subyek materi boleh jadi mempunyai ending namun sebagai subyek esensial, ia akan terus kekal. Karena itu, disebabkan jabatan rektor ialah peradaban-hasil dari subyek esensial, maka ia tak akan merusak manusia atau pun menjerumuskan manusia ke dalam ruang yang menihilkan kemanusiaan itu sendiri.

Melihat fenomena bagaimana rentannya suatu jabatan, bagaimana hebatnya bahkan sedebu kekuasaan dalam merusak manusia, maka membangun relasi kesadaran tersebut menjadi sangat penting terutama sekali untuk selalu menyadari-merefleksi subyek diri sebagai manusia. Masih merujuk kepada Husni Chomsky yang secara ontologis memetakan relasi kesadaran manusia ke dalam tiga jalinan yakni relasi subyek dengan obyek (subject-object relation), relasi subyek dengan subyek (inter-subjec relation), dan relasi subyek dengan Tuhan (subject-God relation).

Baca Juga

Ketiga relasi kesadaran tersebut semakin menjelaskan yang, manusia yang memiliki kesadaran relasional dengan manusia (subyek dengan subyek), tidak hanya akan mencerahkan mereka untuk terus melihat suatu jabatan sebagai peradaban (boleh juga dibaca atau difahami sebagai ladang amal ibadah), namun juga akan menyelamatkan dirinya dari sikap dan mental commodity fetishism, pemberhalaan terhadap jabatan (benda) tersebut. Dan seterusnya akan mendorong manusia tersebut, malahan dengan jabatan di tangan membuatnya semakin dekat dengan zat hakiki, Tuhan. Dalam hal ini, manusia sebagai yang esensial, selain itu ialah alat, ialah medium untuk mencapai zat Maha Tunggal.

Saya menyitir secara ringkas mengenai kesadaran ini karena ia berhubungan dengan pembelajaran waktu yang dapat diambil dari perjalanan Masnun Tahir. Merungkai waktu akan memberikan kita rumusan tentang bagaimana Masnun Tahir secara konsisten berkembang pada setiap lapisan waktu tersebut. Terkait waktu, Nikolai Berdyaev (seorang filosof sejarah berkebangsaan Rusia) mengkategorikan sebagai waktu kosmis, waktu sejarah, dan waktu eksistensial. Waktu kosmis dapat dihitung menggunakan ukuran detik, menit, jam dan seterusnya. Ia berdering mengikuti kosmologi setiap manusia, dan itulah sebabnya ia dapat berulang-ulang.

Seterusnya diskusi Muhammad Iqbal (seorang filosof Islam berkebangsaan India) mengenai waktu sebagai waktu objektif, waktu matematik, waktu mutlak, dan waktu relatif. Keempat pewaktuan ini tidak akan diperincikan dalam tulisan ini, namun lebih menekankan pandangan Iqbal bahwa waktu dapat dihayati dengan pengalaman dan kesadaran pada diri manusia yang selalu berubah, berkembang secara dinamis. Perkembangan tersebut berada dalam arus diri manusia yang efisien maupun manusia apresiatif.

Pada ruang waktu kosmis ini dapat dilihat konsistensi Masnun Tahir melakukan tirakat perjuangan kepribadian yang, meski berulang-ulang namun rasa jemu yang ditimbulkannya tidak banyak mengubah-menggoyahkan kepribadian tersebut di jangkar perjuangan. Kalau berjumpa dengan Masnun Tahir sepuluh tahun yang lalu dalam berkperibadian yang lurus-lontah:jamak-jamak, maka kepribadian yang sama akan dijumpai pada masa sepuluh tahun yang akan datang.

Bagaimana menguji konsistensi tersebut? Secara sederhana dapat dilakukan dengan membuat perputaran waktu ke dua puluh tahun sebelum. Yakni sepuluh tahun yang lalu dihitung dari waktu sekarang kemudian dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu dihitung dari sepuluh tahun sebelum waktu sekarang. Apa yang terjadi adalah konsistensi kepribadian Masnun Tahir yang lurus itu sudah dijumpai. Terus terasah hingga menemukan kematangan.

Pada dasarnya waktu sejarah hampir sama dengan waktu kosmis. Ia dapat dihitung secara matematis namun pengukurannya menggunakan skala lebih kompleks dan umum yakni dekade, abad, dan milenium. Hanya saja, setiap peristiwa dalam waktu kesejarahan disebut tidak dapat berulang kembali. Dalam pengertian yang lebih sederhana ialah esensi dari peristiwa boleh serupa namun detil kejadian pasti berbeda.

Dalam konteks waktu sejarah ini dapat dilihat pada perkembangan keilmuan, evolusi intelektualitas, atau pun kualitas ketundukan hati Masnun Tahir. Yang paling mudah dapat dilihat dalam perkembangan intelektualitas. Misalnya satu fenomena, satu isu yang dibedah Masnun Tahir mengalami perkembangan kematangan dan kedalaman. Isu yang sama sepuluh tahun yang lalu mempunyai kekayaan perspektif dan kedalaman penghayatan pada masa sekarang.

Amat sering dijumpai yang, Masnun Tahir menyitir satu ayat atau pun hadis yang dalam konktesktualitasnya berlainan. Butir ayat tersebut dirajut dalam pemahaman yang bersifat relevantif-korelasional. Berbeda penjelasan sekaligus menemukan kedalaman substansi. Kemampuan seperti ini amat diperlukan dalam dunia ilmu pengetahuan. Kemampuan yang saya sebut sebagai kecerdasan parafrase (paraprhasing intelligence) yakni suatu kecerdasan memahami esensi sesuatu secara ontologis sekaligus kecerdasan mengekspresikannya ke dalam bentuk dan simbol yang baru. Hal ini disebabkan oleh konsistensi Masnun Tahir dalam mencerap dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Selain itu juga disebabkan oleh pergaulan yang lebih luas sehingga memberikan peluang untuk berhadapan dengan berbagai warna sosial kemasyarakatan.

Apa yang terpenting dari ketiga perjalanan waktu tersebut dalam mendiskusikan Masnun Tahur ialah waktu eksistensial. Waktu yang tidak dipengaruhi oleh perhitungan yang bersifat matematis. Ia ditentukan oleh intensitas-kualitas penghayatan dan pendalaman manusia terhadap segala jalan peristiwa hidup mereka. Penderitaan, kebahagiaan, tangisan dan tawa, tinggi-rendah, terbang-terjatuh, jaya-runtuh dipilin-pilan dalam penghayatan mendalam.

Masa lampau tidak pernah pergi namun bukan untuk dikenang dalam batasan yang sempit dan rendah pada bentuk ingatan semata. Melainkan masa lampau sebagai pembentuk, sebagai bingkai yang orientatif sehingga mempunyai hubungan yang dekat dengan masa kekinian. Segala waktu dijalankan atas kesadaran yang kuat sehingga setiap interval waktu tidak saling mempengaruhi dalam sisi keburukan, melainkan pada tonggak kejayaan manusia yang sudah menjadi. Benar-benar menjadi.

K. Bertens (seoang filosof berkebangsaan Belanda) mengatakan, jika manusia berbuat sesuatu pada masa muda, maka masa depan sudah menjelma dalam dirinya, baik dalam bentuk ketakutan maupun harapan. Hal ini memantik slide gambar-gambar yang menceritakan perjumpaan (intersubyektivitas rekognitif) saya dengan Masnun Tahir selama di Jogja hingga balik kampung ke Lombok. Dari detik pertama ia memvisualkan diri, suatu visual yang lebih bermakna sikap berdiri yang kokoh pada diri yang aktif dalam dunia ilmu pengetahuan. Diskusi dan pertembungan di bilik organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan yang mencerahkan. Detik dan milenium terus berkembang, namun “sikap diri” Masnun Tahir kekal dalam waktu eksistensial sebagai ilmuwan dan aktivis yang semakin matang.

Dalam situasi kecendrungan manusia yang kebanyakan melihat pucuk suatu capaian, amat penting ditegaskan yang kedudukan Masnun Tahir sebagai rektor UIN Mataram pada masa sekarang sebenarnya bukan cerita terpenting dalam setiap penggalan waktu yang sudah dilalui dan akan dijalani.

Keutamaan yang harus dilihat ialah manusia hanya berkewajiban memperjuangkan sesuatu, namun tak punya kewajiban apa pun untuk mendapatkan sesuatu dari perjuangan tersebut. Jika akhirnya ia mendapatkan puncak yang bagus, itu tidak akan mengubahnya sebagai manusia pejuang. Kekuasaan, misalnya, tidak akan mengubah manusia jika esensi kemanusiaan itu diletakkan pada bagaimana ia berjuang bukan pada apa yang dihasilkannya. Karena esensi kemanusiaan itu jauh lebih besar, bahkan tidak sebanding dengan setinggi apa pun capaian yang diperolehi.

Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Husni Chomsky, yakni subyek harus berperan sentral terhadap obyek. Meski harus memegang prinsip hubungan yang korelatif-etik dengan obyek, manusia harus selalu berada di atas obyek. Karena jika obyek menguasai manusia, ia tak lagi berkedudukan sebagai manusia esensial, melainkan sebagai pemberhala. Ia tak lebih dari sekadar penghamba benda, penyembah kuasa, yang oleh Marx disebut sebagai pemberhala komoditas (commodity fethisism).

Karena jabatan rektor merupakan obyek-eksterior, maka apa yang esensial dari Masnun Tahir harus dilihat sebagai yang sentral. Bagaimana perjuangan hidup Masnun Tahir, menghayati segala rentang sejarah, konsistensi dalam kebaikan, istiqomah dalam mengembangkan ilmu, berperan aktif dalam membangun relasi sosial kemanusiaan-kemasyarakatan tidak boleh ditenggelamkan oleh setitik jabatan bernama rektor UIN Mataram.

Ia hanya sesenti dari keseluruhan perjalanan waktu Masnun Tahir sebagai manusia yang utuh. Dengan kata lain, jika kita semakin menghormatinya, bukan karena ia menjabat rektor UIN Mataram, melainkan karena Masnun Tahir telah memberikan pembelajaran waktu tentang bagaimana seharusnya menusia konsisten di arus waktu eksistensial: berjuang tanpa penghabisan sebagai manusia.

Manusia kebanyakan hanya terpukau oleh jabatan seseorang. Begitu senang membangun mimpi yang berpijak pada jabatan-jabatan tersebut. Akhirnya mereka lupa yang utama pada diri seseorang ialah kemanusiaannya, bukan jabatannya. Dengan berpandangan seperti ini, maka sikap hubungan kita dengan siapa pun tidak lagi disambung oleh jabatan: obyek-eksterior melainkan oleh manusia yang memegang jabatan tersebut: subyek-esensial.

Harus dibangun satu kesadaran, di mana kita mestilah lebih menghormati, menghargai, menjunjung tinggi manusia karena dialah subyek-esensial itu, bukan jabatan yang diembannya.

Seperti yang saya kemukakan di atas, kalau hanya terpusat pada apa yang dicapai Masnun Tahir sebagai rektor UIN Mataram dalam usia muda, mungkin yang tumbuh dalam diri hanya kekaguman bahka sanjungan yang berpotensi berlebihan. Kedua sikap ini akan mengaburkan pandangan kita pada diri Masnun Tahir sebagai subyek-eksistensial. Di mana pada ranah ini Masnun Tahir telah melalui hidup yang berat, pahit, getir untuk dapat menapak sebagai manusia. Ruang inilah yang sepatutnya kita rujuk dan imami. Bukan jabatan rektor yang hanya sesenti masa itu.

Kalau akhirnya Masnun Tahir dapat duduk sebagai rektor UIN Mataram, ia bukan yang utama dalam laman perjuangannya sebagai manusia yang esensial. Boleh jadi kedudukan tersebut tidak pernah menjadi bidikan besar dalam hidupnya. Karena ia fokus pada usaha mematangkan diri sebagai manusia sosial dan manusia beriman. Maka, kedudukan Masnun Tahir sebagai rektor UIN Mataram itu hanya sedebu dalam horizon dirinya sebagai manusia.

Karena itu, amat tidak logis jika pusat kekaguman dan penghargaan itu diletakkan pada jabatannya: obyek-eksterior, bukan pada keutamaannya sebagai manusia.

Ada dua hal yang terjadi dengan sikap diri di atas. Pertama, kita akan terselamatkan dari jenis manusia yang memberhalakan kekuasaan atau membangun hubungan dengan seseorang hanya karena kekuasaan yang melekat pada diri orang tersebut. Sikap ini akan membuat kita menjadi manusia kalang kabut, manusia gelap mata yang melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan manfaat dari kekuasaan orang lain tersebut. Sikap ini juga, selain meruntuhkan diri kita sendiri sebagai manusia sekaligus menistakan pemegang kekuasaan.

Yang kedua, akan menyelamatkan Masnun Tahir dari sikap menyalahgunakan kekuasaan.

 

Malaysia, Zulhijjah 1442 H.

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *