Polisi Akui Tewasnya Zainal Abidin, Begini Kronologisnya

Kapolres Lombok Timur, AKBP. Ida Bagus Winarta  melayat ke rumah duka, Zainal Abidin, Jum’at, 6 September 2019. / Foto : istimewa

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com – Meninggalnya seorang pelanggar Lalu Lintas di Lombok Timur, Zainal Abidin mendapat sorotan dari berbagai pihak. Bahkan sejumlah media online nasional maupun lokal memuatnya.

Berdasarkan keterangan Polres Lotim kepada sejumlah awak media, membenarkan adanya pelanggar lalin yang meninggal. Namun, meninggalnya pelanggar Lalin tersebut masih menjadi misteri. Dikarenakan keluarga korban, tidak bersedia melakukan Outopsi Jenazah korban setelah menandatangani surat pernyataan .

Adapun kronoligis peristiwa yang menyebabkan kematian Zainal Abidin tersebut berawal dari terjaringnya yang bersangkutan dalam razia yang digelar Satlantas Polres Lotim pada Kamis, 5 September 2019.

Kapolres Lombok Timur, AKBP. Ida Bagus Winarta dalam konfrensi pers, Ahad, 8 September 2019 di halaman Mapolres Lombok Timur mengatakan Zainal Abidin terjaring pada Razia Ops Patuh Kabarin 2019 pada Kamis, 5/8 kemarin. Diduga, karena tidak terima ditilang, kemudian pada malam harinya Zainal mendatangi Kantor Santlantas Polres Lotim.

“Sekitar pukul 20.20 Wita, bertempat di lapangan apel Sat lantas Polres Lotim, tiba tiba datang seseorang yang tidak dikenal dengan menggunakan Sepeda motor Vario warna putih. Datang dari arah melawan arus, dan tanpa helm memasuki pintu gerbang Kantor Sat lantas,” jelas Kapolres.

Tanpa turun dari kendaraannya, Zainal kemudian bertanya dengan nada yang kasar kepada anggota Satlantas yang tengah piket jaga pada malam itu. Yaitu Aipda Wayan dan Bripka Nuzul.

Baca Juga

Aipda Wayan pun meminta agar Zainal turun dari kendaraan terlebih dahulu baru berbicara. Namun, ucapan Aipda Wayan mendapat jawaban yang ketus dari Zainal. Bripka Nuzul yang mencoba menenangkan Zainal sembari menghampiri, justru mendapat serangan.

“Saudara Zainal datang dengan cara yang tidak bersahabat. Lalu, dengan nada keras berkata ‘Dimana Motor Saya’. Aiptu Wayan menyampaikan kepada yang bersangkutan untuk turun dari kendaraan dulu. Namun, masih dengan nada keras, dia mengatakan ‘maumu apa?’,” tutur pria yang pernah mennjabat Kapolres di Bima ini.

“Bripka Nuzul menghampiri Zainal dengan tujuan menenangkan sambil berkata ‘ada apa pak? tolong tenang’. Namun, secara tiba-tiba saudara Zainal menyerang Bripka Nuzul dengan tangan terkepal memukul ke bagian pipi sebelah kiri dan hidung secara bertubi tubi,” lanjut Winarta.

Akibat bergumul, keduanya bahkan sampai terjatuh. Bripka Nurul yang berusaha melepaskan diri dari Zainal, juga mengalami luka gigit pada telunjuk tangannya. Aipda Wayan yang berusaha memisahkan perkelahian tersebut, juga mendapat serangan.

Akibat serangan Zainal, kedua anggota Satlantas tersebut pun melakukan pembelaan diri dengan memberikan perlawanan.

Tak lama kemudian, Anggota Satlantas lainnya yaitu Briptu Bagus dan Aiptu Hery datang untuk melerai perkelahian tersebut.

“Saudara ZA berontak, mencoba melarikan diri. Namun, berusaha ditahan oleh anggota piket. Dan, kembali Saudara ZA melakukan perlawanan. Anggota pun melakukan pembelaan diri hingga mengakibatkan ZA terjatuh, dan menabrak Pot bunga yang ada di lapangan apel Satlantas,”

Setelah berhasil melumpuhkan ZA, anggota Satlantas kemudian menyerahkan yang bersangkutan ke SPKT Polres Lotim.

Menurut Kapolres, akibat perkelahian antara Zainal dan Anggota Satlantas, yang terjadi di halaman kantor Sat Lantas tersebut, juga menyebabkan luka yang serius pada anggotanya.

“Perlu kami tegaskan, akibat serangan dari sdr ZA, Bripka Nuzul juga langsung dilarikan ke Rumah Sakit, karena luka-luka yang cukup serius. Sedangkan, terhadap Saudara ZA, sempat dilakukan pemeriksaan dari Sat Reskrim. Namun, saat pemeriksaan Saudara ZA tiba-tiba tidak sadarkan diri. ZA kemudian dibawa ke RSUD dr. Soedjono Selong untuk mendapatkan pertolongan,” pungkas Winarta.

Untuk diketahui, menurut keterangan keluarga dan Kepala Puskesmas Masbagik, bahwa ZA mengalami gangguan kejiwaan sejak tahun 2013. Hal ini telah dibuktikan dengan rekam medis dari RSJ Mutiara Sukma Selagalas, Mataram.

“Walaupun demikian kami dari Polres Lotim sudah melakukan pengobatan dan pembiayaan RS hingga biaya pemakaman, dan musyawarah mufakat dengan pihak keluarga. Hal tersebut di buatkan dalam surat penyataan dan persetujuan keluarga,” ujar Winarta. [] Ded

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *