SK Bupati : Budaya Bukan Lips Service

Bupati Lombok Timur, Drs. HM. Sukiman Azmy, MM dan Kadis Pariwisata, Dr. HM. Mugni, M.Pd . / Foto : Istimewa

Dalam sebuah kelompok diskusi, ada seorang peserta bertanya, “Mana lebih dahulu budaya dengan agama?” Ada beberapa peserta diskusi yang menanggapi dengan 2 tipe jawaban. Duluan agama, dengan argumentasinya. Duluan budaya, dengan argumentasinya. Saya condong dengan yang duluan budaya dengan argumentasi bahwa yang beragama dan berbudaya itu manusia. Dalam teori teologi bahwa pada saat wahyu masih turun jarak adanya rasul yang satu dengan rasul yang selanjutnya, manusia tidak bergama/tidak ada agama karena ajaran agama sebelum Nabi Muhammad Saw umur ajarannya seumur nabi/rasulnya. Pada saat ini maka manusia menjalani hidupnya dengan budaya.

Budaya, karya manusia dengan akal dan budinya untuk menjadikan hidupnya lebih bermanfaat. Bermanfaat bagi sesama dan lingkungan. Akal dan budi manusia itu terbatas. Untuk mengisi ruangan keterbatasan itu maka Tuhan menurunkan agama yang dibawa oleh para rasul. Karya akal budi yang tidak sesuai yang tidak tepat dalam pandangan teologi akan diluruskan/diarahkan oleh agama. Arahan-arahan tersebut tidak cukup hanya dilogikakan tapi harus juga diramu dengan memaksimalkan akal budi/hati yang dalam teori teologi dikenal dengan istilah keyakinan atau iman.

Dalam teologi Islam, sholat harus menutup aurat. Dalam ilmu fiqh para ulama menjelaskan bahwa aurat adalah batas-batas anggota badan yang harus ditutup sehingga kulit tidak kelihatan. Bila yang wajib ditutupi tidak tertutupi dengan sengaja maka sholatnya menjadi batal. Dalam kehidupan bermasyarakat, agama juga memerintahkan supaya aurat ditutup untuk menjaga kehormatan dan terhindar dari perbuatan-perbuatan negatif.

Dengan apa harus menutupnya? Tidak ada penjelasan rinci tentang hal ini. Pada posisi ini akal harus difungsikan dengan maksimal. Alat untuk menutup aurat ini terus berkembang seiring dengan perkembangan daya pikir yang ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan. Pada mulanya aurat ditutup dengan daun-daunan atau dari kulit pohon. Fenomena ini masih ada pada sebagian kecil saudara-saudara kita yang ada di Papua. Mungkin nenek moyang orang Sasak juga seperti itu.

Seiring dengan perkembangan zaman dan datangnya penjajah ke negeri ini maka proses penciptaan bahan-bahan untuk menutup aurat ini terus berinovasi. Untuk orang Sasak melahirkan kain tenun. Kain tenun khas Sasak yang diproduksi oleh perempuan-perempuan Sasak. Pada zaman dahulu perempuan sasak harus pandai/fasih menenun. Kemampuan menenun manjadi salah satu persyaratan bagi perempuan Sasak untuk boleh menikah.

Menenun menjadi pekerjaan perempuan Sasak. Sambil menjaga rumah suaminya, anak-anaknya, mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan lain-lain. Mereka juga menenun pada waktu senggangnya dalam satu hari. Di samping itu, perempuan Sasak juga harus pandai menumbuk padi. Ini juga menjadi pekerjaan perempuan Sasak. Di zaman dahulu, bila sang gadis. Sasak pandai menenun dan menumbuk padi maka akan menjadi incaran para lajang (terune) Sasak.

Baca Juga

Tradisi menenun dan menumbuk padi melahirkan pekerjaan juga bagi para laki-laki Sasak. Merekalah yang membuat alat-alat tenun dan alat untuk menumbuk padi. Alat-alat tersebut seluruhnya berasal dari kayu dan bambu. Orang Sasak menjadi tukang kayu. Ini pekerjaan bagi laki-laki. Untuk bisa membuat alat-alat tersebut pohon dan bambu harus ditanam. Alam manjadi sejuk dan lestari. Implikasinya lambat laun mata air akan bermunculan. Sungai-sungai/selokan air mengalir deras. Saat ini apa yang terjadi….?

Tradisi menenun dan menumbuk padi bagi perempuan Sasak terus tergerus seiring dengan perkembangan zaman. Ilmu pertanian semakin berkembang. Padi yang harus ditumbuk terlalu lama panennya. Digantilah dengan padi yang cepat panen yang tidak membutuhkan alat tumbuk ala Sasak. Tetapi alat tumbuk yang dibutuhkan dari mesin. Mesin penggiling padi. Perempuan Sasak tidak lagi menumbuk padi. Jadilah mereka pengangguran. Kegiatan menenun juga tergerus dengan lahirnya pabrik kain yang memproduksi kain berbagai merek. Perempuan Sasak tidak menenun lagi. Jadilah mereka pengangguran. Yang tinggi sekolahnya bisa kerja di kantoran. Tetapi berapa banyak? Yang tidak beruntung jadilah TKW ke Malaysia dan Timur Tengah. Jadi apa di sana? Jadi pembantu. Jadi tukang masak. Jadi tukang cuci. Jadi tukang sapu. Jadi penjaga anak-anak majikan. Profesi yang tidak lebih terhormat dari pekerjaan sebagai tukang tenun di kampung halaman. Jadi sepertinya perlu ada upaya untuk mengembalikan pekerjaan tersebut yang menjadi budaya masyarakat Sasak. Bukankah produk tenun Sasak tersebut telah disepakati menjadi pekaian adat Sasak.

Tradisi menenun bagi masyarakat Sasak tidaklah punah sama sekali. Masih ada beberapa desa yang mempertahankan. Di seluruh Pulau Lombok masih ada. Di Lombok Timur ada di Desa Pringgasela, Desa Kembang Kerang Daya, Desa Lenek Lauq, Desa Sukarare, Desa Sapit, Desa Maringkik, dan lain-lain. Kegiatan menenun pada desa-desa tersebut harus terus dikembangkan, dipertahankan dan diregenerasikan. Bahkan harus ditularkan ke desa-desa lain yang sebenarnya pada masa lalu juga sebagai lokasi perempuan-perempuan Sasak menenun.

Untuk merealisasikan konsep ini maka harus ada pangsa pasar yang jelas. Pembeli yang pasti. Bila perlu pembelinya antri. Seiring dengan semakin berkembangnya dunia pariwisata maka hasil tenun khas Sasak telah menjadi cindra mata. Oleh karena itu, wisatawan salah satu pangsa pasar. Berapakah jumlah wisatawan yang membeli. Pastinya tidak banyak karena harganya kalah bersaing dengan kain-kain produk mesin. Untuk itu perlu ada upaya untuk membantu menurunkan harga sehingga bisa bersaing dengan produk-produk mesin. Di samping itu, perlu juga adanya edukasi yang massip untuk menyadarkan masyarakat bahwa menenun adalah budaya Sasak yang menjadi keterampilan dan sumber pendapatan perempuan Sasak. Dengan menenun perempuan Sasak tidak perlu keluar rumah. Tetap diam di rumah berkumpul dengan keluarga dan mendatangkan penghasilan untuk keluarga. Perempuan Sasak mendapatkan pahala dengan penghasilan yang diperoleh untuk membantu suami yang berkewajiban mencari nafkah untuk keluarga.

Kebijakan Bupati Lombok Timur yang mengeluarkan SK per 4 Oktober 2019 yang mengharuskan seluruh PNS Lombok Timur untuk menggunakan pakaian adat Sasak haruslah diacungkan jempol dan diangkatkan topi. Kebijakan cerdas, arif, bijaksana, dan smart. Bukti keberpihakan pejabat kepada budaya daerah dan membangkitkan lapangan kerja baru. SK tersebut haruslah berpihak pada para produsen produk tenun Lombok Timur. Bukan importir dari Lombok-Lombok lain.  SK harus tegas eksplisit mencantumkan bahwa atribut pakaian adat Sasak yang dipakai harus bahkan wajib merupakan hasil karya dibuatkan oleh masyarakat Gumi Selaparang. Jangan ngimpor dari Lombok Tengah, Lombok Barat, Kota Mataram, dan KLU. Wah…lebih tidak lucu lagi kalau sampai mengimpor.

SK Bupati Lombok Timur Nomor : 188.45/329/ORG/2019 pada diktum kesatu menegaskan bahwa PNS Lombok Timur pada hari Kamis harus menggunakan pakaian adat dengan unsur utama sapuk, kain songket, bebet/bengkung/jilbab dan kebaya. SK ini berlalu efektif, 21 Oktober 2019. Ini berarti bahwa pada hari Kamis 24 Oktober 2019 seluruh PNS Lombok Timur menjadi minggu pertama dan hari pertama untuk menggunakan pakain adat. Pakaian kain, bebet, dan sapuk. Sedangkan baju warna putih. Tetapi Bupati Lombok Timur sebagai penanda tangan SK telah memberikan contoh yang sangat apik, Kamis 17 Oktober 2019, beliau sudah mulai menggunakan pakaian adat sesuai dengan SK tersebut. Pakaian sapuk, baju putih, kain tenun Peringgasela, bebet/bengkung tenun Kembang Kerang, dan sandal. Luar biasa. Mantap. Bupati pro rakyat kecil. WA teman saya setelah membaca berita yang mengekspose kegiatan Bupati Lombok Timur pada hari itu. Pertemuan tentang tembakau bersama Gubernur, pertemuan dengan para pimpinan BUMN/BUMD yang ada di Lombok Timur di Rupatama Kantor Bupati, dan pertemuan dengan Pengurus Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Lombok Timur di Pendopo. Bupati full seharian menggunakan pakaian adat. Saya jawab WA teman itu, Very good

Kebijakan yang luar biasa. Tetapi dari kaca mata kampus SK tersebut harus kembali ke filosofis dan misi digunakannya pakaian adat. Di antara filosofisnya melestarikan nilai budaya supaya generasi selanjutnya memahami dan melestarikannya. Di antara misinya mempertahankan skill dan menciptakan lapangan kerja. Untuk itu semakin banyak yang menggunakan maka semakin bagus. Semakin kembali kepada bentuk aslinya maka akan semakin bagus. Jangan bangga dengan inovasi dan rekayasa. Inovasi memang perlu tetapi tidak boleh menutupi bentuk dan nilai-nilai dasarnya.

Pakaian adat perempuan Sasak bukan kebaya tetapi lambung. Kebaya pakaian nasional dan tidak lincah bagi perempuan bekerja. Untuk itu, seharusnya PNS perempuan menggunakan lambung dengan inovasi jilbab. Inilah inovasi cerdas. SK bukan hanya untuk PNS tapi seluruh ASN. ASN bukan hanya lingkup pemda tapi juga instansi vertikal dan semua yang berkantor di Lombok Timur. Pemerintah atau swasta. Semua sekolah di Lombok Timur, tidak peduli negeri atau swasta.  Bahan-bahan pakaian yang digunakan wajiblah produk Gumi Selaparang. Barulah top memberdayakan potensi lokal. Inilah hakikat dari pariwisata: budaya kokoh dan penyedia lapangan kerja.
Wallahuaklambissawab.

Penulis adalah Ketua ICMI ORDA Lotim, Mugni Sn. (M.Pd., M.Kom., Dr.)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *