TGB Matahari Dari Timur

Dr. TGB. H. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A. (Kanan) dan Ustadz Udo Yamin Majdi ( Kiri ) disalah satu Bandara. / Foto : Ist

Nama TGB harum, bukan hanya di media cetak dan media online, tapi di media elektronik Mesir.

Selama berintraksi dengan TGB, saya melihat ada karakter menonjol dalam diri cucu pahlawan nasional TGH M Zainuddin Abdul Majid ini.

Apa karakter itu?

Pertama tawadhu. Karakter rendah hati ini, yang membuat nama beliau 15 tahun tidak terlalu muncul. TGB ibarat permata tersembunyi.

Beliau tidak mau, ada orang mengetahui kelebih-kelebihan beliau. Selama bisa ditutupi, beliau tidak mau orang lain mengetahui kebaikan dan aktivitas beliau.

Sangat tidak mungkin, beliau menceritakan kebaikan dan aktivitas beliau. Di sinilah, butuh orang yang mau menceritakan tentang matahari dari Timur ini.

Baca Juga

Muncullah beberapa orang berinisitif menulis buku. Buku ini ditulis oleh orang lain dan inisiatif sendiri, bahkan awalnya TGB tidak mengetahui.

Ada seorang teman menulis novel kisah TGB.

Sebelum novel itu diterbitkan, penulis nasional itu, meminta TGB membacanya. Apa yang terjadi kemudian, TGB meminta merevisi novel itu, sehingga dari 500 halaman menjadi 300 halaman.

“TGB tidak mau, kita menulis berlebihan tentang kebaikan beliau,” cerita teman saya itu saat kami turun dari pesawat yang membawa kami dari NTB ke Surabaya.

Saya pun menjadikan fesbuk ini, menceritakan pengalaman dan pandangan mata saya terhadap kebaikan dan aktivitas TGB.

Terhadap tulisan-tulisan saya, TGB sering merespon, “semoga husnuzhon Ustaz Udo menjadi do’a.”

Saya menulis tentang TGB, karena panggilan hati untuk menceritakan bahwa di antara anak bangsa ada orang baik seperti TGB. Menurut saya, inilah aset bangsa dan umat yang harus dijaga.

Karakter kedua, pemalu. Coba tonton video-video TGB di wawancara di tv, setiap kali ada yang memuji TGB, bagaimana gestur tubuh beliau?

Yang saya perhatikan dan amati selama menemani beliau, sewaktu ada yang memuji TGB, secara spontan kepalanya menunduk dan wajahnya tersipu.

Dari raut wajahnya saja, sebenarnya kita sudah menangkap bahwa TGB ini seorang pemalu.

Berikutnya, karakter ketiga, pemberani. Meskipun beliau tawadhu dan pemalu, namun saya melihat beliau seorang pemberani.

TGB ini ibarat rem, di saat kondisi terlalu ke kiri atau ke kanan, beliau membuat pernyataan yang membuat semua orang berhenti, berpikir dan kembali ke tengah.

Tentu saja resiko orang yang memposisikan “di tengah”, harus siap untuk diserang oleh dua kubu.

Keberanian paling nyata adalah ketika ijtihad politik TGB mendukung salah satu calon berdasarkan pertimbangan kebaikan bangsa, kemaslahatan umat dan akal sehat. Menurut saya, hal ini tidak bisa dilakukan oleh seorang pengecut.

Apa yang terjadi kemudian? TGB pun mulai dibunuh karakternya, ditekan, digencet, bahkan ingin disingkirkan dari percaturan politik.

Awalnya TGB dipuji-puji, akhirnya dicaci-maki. Semuanya menyerang keputusan beliau. Namun TGB sudah mengkalkulasi resiko yang beliau terima.

“Sudahlah Ustaz, hina dan mulianya kita, bukan dari omongan orang, tapi dari niat dan perbuatan kita. Yang kita pastikan, apakah kita memilih jalan selamat dunia dan akhirat atau bukan. Selebihnya, omongan orang tidak ada artinya. Pujian mereka tidak membuat kita masuk surga. Cacian mereka tidak menjadikan kita masuk neraka.” Demikian nasehat TGB ketika saya mulai kesal terhadap sikap orang lain kepada beliau.

Yang keempat, saya melihat ketika TGB berseberangan dengan orang lain, beliau lebih memilih mengalah. TGB tidak mau ada konflik.

Beberapa kali saya membuat quote dari ungkapan TGB. Sebelum saya share, saya biasanya mengirimnya ke TGB.

“Saran saya Ustaz, ini enggak usah dishare. Kita jangan membangun konflik.” Pesan TGB, sebab dalam quote itu memang menyerang orang lain.

Dan terakhir, TGB memiliki sifat pema’af. Saya tahu, bagaimana TGB dimusuhi seorang yang berbeda haluan politik, namun ketika keluarga yang memusuhinya ini ada wafat, TGB hadir. Beliau melupakan, pernah disakiti orang lain.

Atau, masih ingat ketika TGB dihina di bandara sampai dihardik “Tiko”? Kejadian ini sempat viral, ini bukan kemauan TGB, tapi inisiatif ajudannya yang tidak mau muruah pemimpinnnya diinjak-injak.

Apa yang TGB lakukan? TGB memaafkan orang itu, padahal beliau sedang menjabat gubernur.

Saya tidak tahu, apa hikmah dari taqdir Allah hari ini: ketika TGB mendapatkan penghargaan dari Grand Shaikh Al-Azhar, dan namanya semerbak di Negeri Para Nabi.

Apakah ini cara Allah untuk membuka mata orang-orang yang membencinya selama ini: “Anda bisa membenci TGB, tapi Al Azhar tetap mencintainya.” [] *

 

Oleh Ustadz Udo Yamin Majdi (Krui Lampung)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *