Tidak Hanya Aparat, Puluhan Tuan Guru Juga Ikut Berjemur Blokade Pendemo

Puluhan Tuan Guru Terlihat Ikut Berdiri di Belakang Aparat Kepolisian Saat Mengamankan Jalannya Aksi./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.co

LOMBOK TIMUR – Puluhan pemuda dan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Hak Buruh (APHB) Lombok Timur melakukan unjuk rasa di depan kantor Bupati setempat menuntut keberpihakan pemerintah daerah kepada kaum buruh, Senin, 3 April 2021.

Pemandangan berbeda terlihat dalam unjuk rasa tersebut karena tidak biasanya para tuan guru ikut menjadi lapis kedua blokade aparat dalam menjaga keamanan aksi unjuk rasa dalam rangka hari buruh Internasional (Mayday) dan hari Pendidikan Nasional 2021.

Salah satu orator aksi, Eko Rahadi, sebelum menyampaikan tuntutannya, dirinya mengatakan bahwa sepanjang sejarah dirinya melakukan aksi, tumben melihat ada almukarram tuan guru dijadikan alat yang rela berjemur mengamankan aksi.

“Kasian para tuan guru kita yang seharusnya menyampaikan tausiyah agama di Masjid, namun kini kita yang akan memberikan tausiyah kepada almukarram tuan guru tentang bagaima itu aksi, kebebasan bersuara, berserikat dan berkumpul yang sudah di atur dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28,“ katanya dalam penggalan orasinya.

Dirinya mengaku tidak akan anarkis dalam melakukan aksi, untuk itu Eko mengingatkan agar para tuan guru tidak perlu ikut berjemur mengawal aksi. Ia meminta kepada para tuan guru untuk sebaiknya mengingatkan pemerintah daerah supaya tidak berbuat salah.

“Sebaiknya para tuan guru mengingatkan agar pemerintah kita tidak zolim dan jika kami dianggap kurang ajar, ajari kami karena itulah tugas dari almukarram yang disebut ustaz dan tuan guru,“ ujarnya.

Baca Juga

Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB) NTB itu juga dengan lantang menyuarakan agar kaum buruh mendapat perhatian pemerintah daerah, terutama buruh migran Lotim yang sering mendapat perlakuan tidak manusiawi di luar negeri dan tenaga honorer yang sudah 4 bulan tidak menerima gaji.

“Kami minta kepada pemerintah daerah untuk segera membayar gaji honorer, gaji para buruh sapu yang selama 4 bulan belum menerima gaji, jangan jadi pemerintah yang zolim,“ ungkapnya.

Diakhir orasinya, Pengacara muda itu juga meminta supaya pemerintah daerah turun tangan untuk menyelesaikan kasus Yuli Handayani, salah satu buruh migran Lotim yang sudah 9 bulan mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya di Abu Dhabi.

Sementara itu, salah satu Pimpinan Ponpes di Kecamatan Keruak, TGH. Muksin, mengambil alih panggung orator dengan dikawal Wakapolres Lotim dan mengku kehadirannya justru mendukung aksi pemuda dan mahasiswa untuk menuntut dan mengingatkan pemerintah daerah.

“Nanti kami para tuan guru juga akan ikut membantu menyuarakan dan mengingatkan pak Bupati supaya merespon apa yang menjadi tuntutan Mahasiswa hari ini,“ ujarnya. np

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *