Umat Budha Tendaun Rayakan Waisak Dengan Protokol Kesehatan

  • Whatsapp
Kegiatan Perayaan Hari Raya Waisak./ Foto : Muhamad Rasyid/www.ntbpos.co

LOMBOK BARAT – Perayaan Hari Raya Waisak bagi penganut agama Budha di Dusun Tendaun, Desa Mareje Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat, berlangsung penuh khidmat dan mematuhi protokol kesehatan Covid 19, Rabu, 25 Mei 2021.

Rangkaian kegiatan waisak yang berpusat di Wihara Girisena Tendaun. Pelaksanaan hari Raya Waisak di dusun yang terletak di Puncak Bukit Mareje ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Ada beberapa rangkaian ritual perayaan waisak yang kami sesuaikan kerena mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah,“ kata Darma Yusuf, salah seorang pemuka Agama Budha Dusun Tendaun.

Menurutnya, pada perayaan waisak sebelum adanya wabah corona dilakukan penuh kemeriahan. Dimana berbagai kalangan umat budha dari berbagai daerah di pulau Lombok datang memenuhi undangan perayaan waisak di tempat ini.

“Kalau sebelum covid, kami undang dari KLU, Kota Mataram dan juga dari daerah sekitar,“ ucapnya.

Pada perayaan waisak tahun 2565 BE kali ini menghadirkan salah seorang Bante senior sebagai penceramah. Ratusan umat budha duduk bersila dengan jarak sekitar 1 meter, memenuhi lantai 1 dan 2 Wihara Giri Sena.

Baca Juga

Tempat cuci tangan tersedia di pintu masuk Wihara serta peserta perayaan diwajibkan memakai masker.

Dalam penyampaian inti perayaan Waisak tahun 2021, Bikhu Cittaguto Mahathera mengatakan bahwa perayaan Waisak di tengah pandemi membutuhkan pengendalian diri segenap umat budha.

“Dalam ajaran Budha, pengendalian diri merupakan salah satu ajaran pokok. Jadi, ketika covid terjadi, umat Budha tidak kaget dalam menerapkan protokol covid karena hal tersebut merupakan salah satu ajaran Budha yakni tentang bagaimana mengendalikan diri,“ ujarnya.

Senada dengan Bikhu Cittagutto, salah seorang pemuka agama budha lainnya asal Desa Mareje yakni Romo Nasib menjelaskan bahwa terdapat beberapa ritual waisak yang terpaksa harus disesuaikan dengan protokol covid, terutama yang melibatkan orang banyak.

“Ada beberapa ritual yang kami tiadakan karena mentaati prokes, seperti dharma santi, pengambilan air suci yang biasanya diiringi kesenian tradisional serta melibatkan ribuan orang juga ditiadakan, cukup hanya 15 orang saja. Selain itu perayaan waisak juga dilakukan di wihara masing masing secara bergiliran,“ pungkas Romo Nasib.

Meski perayaan waisak tahun ini tidak semeriah sebelum wabah covid 19,umat budha di daerah ini tetap khusuk menjalankan perayaan waisak. np

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *