Tantangan mempertahankan identitas nasional di tengah gempuran teknologi dan arus modernisasi menjadi sorotan utama dalam berbagai sektor di Indonesia belakangan ini. Isu ini tidak hanya bergulir di ranah politik dan kebudayaan, tetapi juga mulai menjadi fondasi strategi baru di dunia industri kreatif profesional.
Pentingnya Keseimbangan Budaya bagi Generasi Muda
Dalam kunjungannya ke Galeri Nasional Indonesia, Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, memberikan atensi khusus terhadap sikap generasi muda dalam memandang kebudayaan sendiri. Di tengah pameran seni rupa patung dan aktivisme karya Dolorosa Sinaga, Presiden kelima Republik Indonesia tersebut mengingatkan agar anak muda tidak terlena oleh kemajuan teknologi hingga melupakan akar mereka.
Megawati menegaskan bahwa mengikuti perkembangan zaman adalah hal yang wajar, namun harus disertai dengan keseimbangan agar tidak kehilangan jati diri. Ia bahkan secara spesifik meminta agar generasi penerus tidak merasa canggung atau “cringe” terhadap seni dan budaya lokal. Menurutnya, modernisasi yang tidak dibarengi dengan hati nurani justru berpotensi menjadi daya rusak yang hebat.
Kecintaan terhadap seni ini, diakui Megawati, merupakan warisan keluarga. Ia menceritakan bagaimana kedua orang tuanya sangat mengapresiasi para seniman dan budayawan, bukan sekadar sebagai penikmat, tetapi menghargai gagasan di balik karya tersebut. Hal ini diamini oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, yang menyebut kehadiran Megawati adalah bentuk penghormatan terhadap seniman yang menyuarakan semangat juang serta aspek historis sebagai pembelajaran masa depan.
Refleksi Sejarah di Galeri Nasional
Agenda kunjungan tersebut tidak hanya sebatas apresiasi estetika. Didampingi oleh Menteri PPPA Bintang Puspayoga, pakar hukum Todung Mulya Lubis, serta kader muda Aryo Seno Bagaskoro, Megawati menyempatkan diri menelusuri jejak sejarah kelam bangsa. Langkah kakinya terhenti di halaman depan Museum Nasional, tepatnya di Monumen Penghilangan Paksa 1995-1996 dan Monumen Pembantaian Massal 1965-1966.
Di hadapan monumen tersebut, suasana berubah khidmat ketika Megawati meletakkan bunga mawar merah. Momen ini menjadi simbolisasi pesan yang tersirat: bahwa kemajuan masa depan tidak boleh menghapus ingatan akan sejarah dan kemanusiaan.
Transformasi Berbasis Budaya di Sektor Korporasi
Semangat untuk mengawinkan nilai-nilai lokal dengan kecepatan inovasi modern ternyata juga tercermin dalam dinamika industri periklanan nasional. Dentsu Indonesia, salah satu jaringan agensi raksasa, baru saja mengumumkan langkah strategis dengan menunjuk Rachelle Raymundo sebagai CEO Creative yang baru. Penunjukan ini menandai ambisi perusahaan untuk menghasilkan karya-karya yang tidak hanya canggih secara digital, tetapi juga mengakar kuat pada lanskap budaya Indonesia.
Rachelle, yang memiliki rekam jejak lebih dari 25 tahun di industri pemasaran, dinilai memiliki visi yang sejalan dengan kebutuhan zaman. Elvira Jakub, Country CEO Dentsu Indonesia, menekankan bahwa di masa depan, pemimpin kreatif harus mampu menyatukan garda depan inovasi dengan sisi kemanusiaan dan hati nurani—sebuah prinsip yang secara tidak langsung beresonansi dengan pesan Megawati mengenai “modernisasi dengan hati nurani”.
Menyiasati Algoritma dengan Empati
Dalam peran barunya, Rachelle akan memimpin tim kepemimpinan kreatif terpadu yang mencakup nama-nama besar seperti Lucky Handoko, Defri Dwipaputra, dan Rangga Immanuel. Langkah ini merupakan puncak dari evolusi kepemimpinan strategis agensi tersebut demi memperkuat warisan keunggulan kreatif mereka yang telah berjalan selama 51 tahun.
Rachelle menyadari bahwa tantangan lanskap kreatif hari ini menuntut lebih dari sekadar ide besar. Menurutnya, industri membutuhkan empati, wawasan berbasis data, dan keberanian untuk berinovasi “sesuai kecepatan budaya”. Ia berkomitmen membangun kekuatan inovasi yang tidak sekadar merespons algoritma mesin, melainkan mampu membentuk percakapan masa depan bagi ekonomi kreatif Indonesia.



