Pergerakan saham Nvidia belakangan ini lumayan bikin bingung. Laporan keuangan mereka meledak, ada otorisasi buyback saham raksasa senilai $80 miliar, dividen juga naik, tapi anehnya harga saham mereka justru stagnan dan cenderung tertinggal dari para kompetitornya. Sang CEO, Jensen Huang, bahkan terang-terangan mengakui kalau respons pasar ini masih jadi “misteri” buat dia. Mengesampingkan sentimen Wall Street yang lesu—di mana saham mereka sempat turun tipis 0.4% di sesi premarket hari Rabu—Huang memilih mengalihkan fokus penuhnya ke Taiwan. Langkah yang ternyata langsung mengguncang pasar lokal.
Saat berpidato di Taipei, Huang melempar pengumuman yang bikin bursa saham Taiwan bergairah: Nvidia akan melakukan ekspansi besar-besaran. Efeknya instan, indeks Taiex ditutup melesat 1.7% ke rekor tertingginya. Tiga raksasa semikonduktor penguasa kapitalisasi pasar Taiex ikut panen. Saham TSMC ditutup naik 1.3%, MediaTek meroket 8.8%, dan Delta Electronics terbang 7.2%. Sentimen pasar makin positif ketambahan berita kalau SK Hynix dari Korea Selatan dan Micron dari AS baru saja tembus valuasi $1 triliun.
Tancap Gas dengan Skala Investasi Masif
Skala komitmen Nvidia di Taiwan ini benar-benar di luar kebiasaan. Huang memaparkan bagaimana empat atau lima tahun lalu, Nvidia “hanya” menghabiskan sekitar $10 sampai $15 miliar setahun di sana. “Sekarang pengeluaran kita $100 miliar, dan akan menuju angka $150 miliar di Taiwan tiap tahunnya,” tegasnya.
Biar ada gambaran seberapa gilanya angka $150 miliar ini: nominal tersebut bakal jadi salah satu pos pengeluaran tahunan terbesar Nvidia, bahkan melampaui total pendapatan mereka dalam satu kuartal penuh. Padahal, Nvidia baru saja mencetak rekor pendapatan $81.6 miliar pada kuartal yang berakhir 26 April lalu, dan memproyeksikan angka $91 miliar untuk kuartal berjalan. Nilai investasi di Taiwan ini juga lebih masif dibandingkan rencana investasi infrastruktur AI mereka di Amerika Serikat, yang dipatok $500 miliar selama empat tahun (atau rata-rata $125 miliar per tahun).
Wujud fisik dari ambisi ini adalah pembangunan kompleks perkantoran baru di utara Taipei bernama “Constellation”. Gedung yang ditargetkan beroperasi pada 2030 ini bakal menampung 4.000 karyawan—empat kali lipat dari total tenaga kerja Nvidia di Taiwan saat ini.
Langkah agresif ini bukan sekadar buka cabang, tapi strategi nempel ketat dengan urat nadi rantai pasok mereka. Nvidia yang bertugas mendesain cip butuh pabrikan seperti TSMC untuk memproduksinya, sekaligus mempererat aliansi dengan mitra perakitan seperti Foxconn dan Wistron. Nvidia bahkan diprediksi bakal mengkudeta posisi Apple sebagai klien terbesar TSMC tahun ini. Seperti yang Huang sebutkan, Taiwan adalah episentrum mutlak revolusi AI; tempat di mana cip dirakit, sistem dibangun, dan superkomputer dilahirkan. Tren mengamankan kapasitas produksi ini rupanya sedang marak. Pekan lalu, CEO Advanced Micro Devices (AMD) Lisa Su juga bertandang ke Taiwan membawa komitmen investasi $10 miliar karena lonjakan permintaan semikonduktor yang di luar prediksi.
Celah Pasar dan Bayang-Bayang Penyelundupan
Lompatan Nvidia di Taiwan terjadi di momen yang krusial, persis ketika mereka sedang dicekik oleh regulasi ekspor AS yang ketat ke Tiongkok daratan. Kontrasnya terlihat jelas dari buku kas mereka: pendapatan dari Taiwan melonjak lebih dari 50% secara tahunan di kuartal terakhir, sementara pendapatan dari Tiongkok daratan dan Hong Kong justru anjlok separuhnya.
Di seberang laut, para pemain cip Tiongkok lagi lumayan kelabakan. Saham-saham andalan Tiongkok berguguran pada hari Rabu, dengan SMIC anjlok, Cambricon turun 5%, dan Hygon merosot 7%. Padahal di awal pekan saham-saham ini sempat rally gara-gara Huawei sesumbar punya teknik manufaktur baru bernama “LogicFolding”. Huawei rencananya akan menanamkan teknologi baru ini di cip smartphone mereka musim gugur nanti, dan di cip Ascend untuk pusat data sekitar tahun 2030. Tapi tampaknya janji teknologi masa depan itu belum cukup kuat untuk menahan realita kepanikan pasar saat ini.
Di mana ada pembatasan ketat, biasanya selalu ada jalur belakang yang terbuka. Kehausan akan cip AI canggih ini memicu manuver-manuver abu-abu. Menurut laporan dari Bloomberg News yang mengutip sumber anonim, jaksa di Taiwan saat ini mencurigai ada tiga individu yang sukses menyelundupkan setidaknya satu pengiriman cip Nvidia ke Tiongkok. Modusnya cukup klasik: mengekspor komponen tersebut ke Jepang terlebih dahulu sebelum akhirnya dialihkan. Walau Reuters belum bisa memverifikasi kabar ini secara independen, insiden ini seolah jadi sinyal betapa liarnya perebutan teknologi AI di pasar global saat ini.



